Archives

now browsing by author

 

Serangan Ransomware WannaCry (Status: Critical)

Himbauan agar segera melakukan tindakan pencegahan terhadap ancaman Malware khususnya Ransomware jenis WannaCRY

Pendahuluan

Ransomware adalah sebuah jenis malicious software atau malware yang menyerang computer korban dengan cara mengunci computer korban atau meng-encrypt semua file yang ada sehingga tidak bisa diakses kembali. Tahun ini sebuah jenis ransomware baru telah muncul dan diperkirakan bisa memakan banyak korban. Ransomware baru ini disebut Wannacry. Wannacry ransomware mengincar PC berbasis windows yang memiliki kelemahan terkait fungsi SMB yang dijalankan di computer tersebut. Saat ini diduga serangan Wannacry sudah memakan banyak korban ke berbagai Negara termasuk indonesia di salah satu rumah sakit di jakarta (berita terkait: http://m.viva.co.id/berita/sainstek/914969-rumah-sakit-dharmais-lumpuh-diserang-virus-ransomware).

Infeksi dan Penyebaran

Wannacry menginfeksi sebuah computer dengan meng-enkripsi seluruh file yang ada di computer tersebut dan dengan menggunakan kelemahan yang ada pada layanan SMB bisa melakukan eksekusi perintah lalu menyebar ke computer windows lain pada jaringan yang sama. Semua komputer yang tersambung ke internet yang masih memiliki kelemahan ini apalagi computer yg berada pada jaringan yang sama memiliki potensi terinfeksi terhadap ancaman wannacry. Setiap komputer windows yang sudah terinfeksi akan mendapatkan tampilan seperti dibawah ini:

ransomeware_wannacry

Dari tampilan diketahui bahwa wannacry meminta ransom atau dana tebusan agar file file yang dibajak dengan enkripsi bisa dikembalikan dalam keadaan normal lagi. Dana tembusan yang diminta adalah dengan pembayaran bitcoin yang setara dgn 300 dollar amerika. Wannacry memberikan alamat bitcoin untuk pembayarannya. Disamping itu juga memberikan deadline waktu terakhir pembayaran dan waktu dimana denda tebusan bisa naik jika belum dibayar juga.

*Tindakan Pencegahan sebelum infeksi*

Lakukan beberapa langkah berikut untuk tindakan pencegahan dari terinfeksi malware ransomare jenis wannacry :

  1. Update security pada windows anda dengan install Patch MS17-010 yang dikeluarkan oleh microsoft Lihat : http://www.catalog.update.microsoft.com/Search.aspx?q=KB4012598 atau di link https://technet.microsoft.com/en-us/library/security/ms17-010.aspx
  2. Pastikan Windows Firewall anda dalam posisi aktif
  3. Block Port 139, 445 & 3389
  4. Jangan mengaktifkan fungsi macros
  5. Non aktifkan fungsi SMB v1
  6. Selalu backup file file penting di computer anda di simpan ditempat lain

Tindakan setelah infeksi

saat ini belum ada solusi yang paling cepat dan jitu untuk mengembalikan file file yang sudah terinfeksi wannacry. Akan tetapi memutuskan sambungan internet dari computer yang terinfeksi akan menghentikan penyebaran wannacry ke computer lain yang vulnerable.

Untuk pelanggan SistemRumahSakit.com bisa menghubungi 0856.4800.1480

 

Pilihan Rumah Sakit Dalam Upaya Pengembangan Teknologi Informasi

Core bisnis rumah sakit adalah medis, biaya investasi tentu akan berpusat pada urusan medis saja, disisi lain rumah sakit sebagai suatu sistem tetap akan membutuhkan adanya Teknologi Informasi dalam menjalankan operasional bisnisnya, maka mau atau tidak mau rumah sakit harus segera menjatuhkan pilihan jenis dan bentuk teknologi seperti apa yang akan digunakannya.

Aplikasi Webbased atau Desktop SIMRS

Adjust

Ada banyak sekali skenario yang dapat dijadikan solusi bagi rumah sakit, setiap solusi tentu akan berbeda antara satu rumah sakit dan rumah sakit lainnya maka dalam hal ini tidak ada yang benar atau yang salah, tergantung kondisi yang ada di internal rumah sakit itu sendiri, namun secara garis besar ada 2 pertanyaan yang harus dijawab oleh manajemen dalam menentukan pilihan tersebut antara lain :

Pertanyaan 1 : Membuat sendiri atau membeli ke pihak ketiga…?

Pertanyaan 2 : Pilih desktop based atau web based…?

Marilah kita mengulas ketiga pertanyaan diatas satu persatu.

Pertanyaan 1 : Membuat sendiri atau membeli ke pihak ketiga…?

Membuat sendiri itu berarti anda harus menyewa system analyst dan programmer, jangan sekali-sekali berharap Staf IT (atau EDP) anda bekerja secara paralel menjadi programmer juga mengingat ada hal lain yang terkadang juga dikerjakan oleh EDP anda, misalkan apabila ada jaringan yang rusak, komputer rusak, printer rusak atau bahkan ketika ada user yang salah entry larinya pastilah ke EDP yang akan disuruh memperbaiki, maka dipastikan EDP anda tidak akan punya waktu yang cukup untuk melakukan programming.

Dari segi biaya (Cost) mari kita hitung asumsikan dengan hitungan minimal untuk gaji System Analyst  5jt/bulan dan programmer junior 4jt/bulan, kemudian kalikan selama 12 bulan, maka biaya yang dibutuhkan selama 1 tahun adalah 108jt selama 1 tahun, pertanyaan selanjutnya : apakah anda yakin dalam waktu 1 tahun software yang anda buat sudah jadi dan bisa digunakan sesuai kebutuhan manajemen….?

Berdasarkan pengalaman SistemRumahSakit.com sudah mengembangkan aplikasi CMSM (Complete Medical Software Management) selama 8 tahun lebih, yang artinya untuk ketersediaan (Availabilty) anda masih butuh waktu 8 tahun lagi supaya aplikasinya layak digunakan di rumah sakit jika anda harus membuat sendiri.

Pertanyaan 2 : Pilih Aplikasi Webbased atau Desktop SIMRS …?

Ketika anda memutuskan untuk membeli, maka anda akan dihadapkan ke pertanyaan kedua yaitu pilih Aplikasi Webbased atau Desktop SIMRS…?, ada perbedaan mendasar antara desktop dan webbased, apabila anda memilih webbased tentu script HTML, PHP, JAVA SCRIPT akan anda dapatkan, karena script tersebut haruslah tersedia di server, anda pasti akan berfikiran bahwa anda memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan berinovasi melakukan upgrading system yang anda miliki saat itu, pertanyaan selanjutnya adalah : bagaimana dengan keamanan (Security) datanya…?

Logikanya sebenarnya cukup sederhana, ketika anda membeli dan bisa mendapatkan source codenya (secara legal dan bermoral tentunya hehehe…), maka dapat dipastikan Customer (rumah sakit) lain juga mendapatkan hal yang sama seperti yang anda dapatkan, itu berarti source code dimiliki oleh lebih dari 1 rumah sakit, atau mungkin lebih, lantas siapa yang menjamin kerahasiaan source code tadi…? kemungkinan isi source code untuk tersebar akan semakin luas.

Sebagai contoh : android vs iphone dimana environment android lebih terbuka dibanding iphone, maka dari segi keamaan android lebih sering mendapatkan ancaman, terlebih lagi android memiliki jumlah pengguna yang sangat besar yang menjadikannya santapan menggiurkan bagi para technofreak baik yang memiliki motif bisnis, politis atau hanya sekedar iseng belaka.

Pertanyaan tambahan selanjutnya adalah apakah yakin EDP anda memiliki cukup waktu untuk melakukan upgrade sistem, sekalipun anda memiliki script dari sistem yang anda gunakan saat itu….? silahkan dijawab sendiri.

 

Aplikasi Webbased atau Desktop SIMRS

Bridging dengan Sysmex XP-300

Saat ini CMSM (Complete Medical Software Management) untuk versi 11.03.CY (atau keatas) sudah memiliki kemampuan baru untuk melakukan Bridging dengan Sysmex XP-300 (alat Hematology Analyzer), proses transfer data dari alat ke aplikasi CMSM dilakukan dengan menggunakan kabel Serial to Serial Cross type.

Dengan demikian bagi rumah sakit yang menggunakan alat hematologi Sysmex XP-300 dapat memanfaatkan fitur tersebut untuk meminimalisasi entry manual pada program. proses data transfer antara alat ke software CMSM kurang dari 10 detik.

Mengingat bridging harus menggunakan port serial untuk bridging dengan Sysmex XP-300 hanya dapat dilakukan untuk aplikasi dengan platform Windows, bagi rumah sakit yang ingin melakukan bridging alat lainnya selain Sysmex XP-300 dapat mengubungi melalui email ke : info@sistemrumahsakit.com

 

Bridging dengan Sysmex XP-300

SIMRS Dengan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

SIMRS Dengan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Sistem informasi manajemen rumah sakit merupakan suatu pengelolaan informasi di rumah sakit, hal ini adalah suatu kewajiban bagi rumah sakit yang sudah diatur dalam perundang-undangan yaitu : Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Pasal 52 ayat (1) tentang pencatatan dan pelaporan kegiatan penyelenggaranan rumah sakit dalam bentuk sistem informasi manajemen rumah sakit, dan Peraturan Menteri Kesehatan No 82 Tahun 2013 Tentang Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit, maka rumah sakit wajib memiliki Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.

Artificial Intelligence - SIMRS Dengan Kecerdasan Buatan

Perkembangan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit yang berbasis komputer (Computer Based Hospital Information System) di Indonesia telah dimulai pada awal tahun 1990 an, namun, tampaknya hingga saat ini banyak komputerisasi dalam bidang per-rumah sakit-an mendapatkan hasil yang kurang maksimal di level manajemen, terutama untuk masalah planning and strategic action.

Sistem informasi yang ada dikebanyakan rumah sakit saat ini dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Masing-masing program memiliki sistem informasi sendiri yang belum terintegrasi, sehingga bila diperlukan informasi yang menyeluruh diperlukan waktu yang cukup lama.
  2. Terbatasnya perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) di berbagai jenjang, dan jaringan LAN yang kurang memadai.
  3. Ketidakdisiplinan dan kurangnya kemauan staf rumah sakit untuk mengelola dan mengembangkan sistem informasi dengan maksimal (misalnya sering kali mengkosongkan form isian data pasien)
  4. Masih belum membudayanya manajemen pengambilan keputusan melalui information support system karena manajemen masih belum memiliki kepercayaan terhadap software yang dimilikinya sendiri.

Komputerisasi di rumah sakit yang terjadi saat ini hanya terbatas pada urusan administrasi saja seperti penyimpanan nomor rekam medis pasien, urusan billing pasien, antrian dan ujungnya untuk membuat laporan RL bulanan. Padahal komputerisasi di rumah sakit apabila dilakukan dengan secara menyeluruh dan sungguh-sungguh dapat memberikan dampak yang lebih, hal ini disebabkan dalam segi identifikasi masalah (problems identification) yang kurang baik, dimana identifikasi dalam implementasi sistem informasi tersebut hanya mencakup hal-hal yang bisa dilihat oleh mata saja.

 

Padahal rumah sakit saat ini melayani ribuan transaksi dan aktivitas pasien dalam kesehariannya, data yang disimpannya pun juga akan mencapai puluhan gigabytes, sungguh sayang apabila data yang jumlahnya sangat banyak itu dibiarkan tersimpan dalam hardisk begitu saja. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa digali dari data tersebut antara lain :

  1.  Peramalan kebutuhan obat (logistic forecasting) di instalasi farmasi
  2. Memprediksi biaya yang akan dihabiskan pasien BPJS dengan menganalisa diagnosa, vital sign dan medical screening awal saat pertama kali pasien masuk.
  3. Memprediksi peluang seorang pasien akan terkena panyakit diabetes berdasarkan rekam medisnya.
  4. Memprediksi tindakan untuk pasien sesuai diagnosanya dalam rangka penyusunan Clinical Pathway
  5. Memprediksi efektivitas suatu obat untuk pasien penderita kanker (Cancer Risk Prediction and Assessment)

Ada beberapa metode yang umum diimplementasikan dalam penggunaan Artificial Intelligence salah satunya yaitu dengan Neural Network (NN) atau yang sering disebut Jaringan saraf tiruan (JST) dalam bahasa indonesia, adalah jaringan dari sekelompok unit pemroses kecil yang dimodelkan berdasarkan jaringan saraf manusia. NN merupakan sistem pasif dalam memecahkan masalah berdasarkan informasi eksternal yang mengalir melalui jaringan tersebut. Neural Network juga dapat diartikan sebagai suatu jaringan saraf tiruan yang memproses sejumlah besar informasi secara paralel dan terdistribusi (hal ini terinspirasi oleh model kerja otak biologis)

Secara sederhana, NN adalah sebuah alat pemodelan data statistik non-linier. NN dapat digunakan untuk memodelkan hubungan yang kompleks antara input dan output untuk menemukan pola-pola pada data.

Neural Network

Neural Network

Dalam penerapannya, NN mengandung sejumlah parameter (weight) yang terbatas. Permasalahan yang masih menjadi perhatian para peneliti adalah bagaimana menentukan model NN yang paling baik (jumlah parameter yang optimal) yang meliputi penentuan unit input yang signifikan dan jumlah unit hidden. NN sederhana masih belum memberikan jaminan didapatkannya model yang optimal, oleh karena itu NN harus dapat beradaptasi untuk merubah nilai bobot (weight) secara mandiri yang selanjutnya disebut sebagai Adaptive Neural Network (ANN).

By Admin

SIMRS Dengan Kecerdasan Buatan

Aplikasi Desktop vs Web based

Aplikasi Desktop vs Web based: Bagi sebuah perusahaan dalam mengembangkan aplikasi bisnisnya pasti akan dihadapkan 2 pilihan platform, apakah berbasis desktop ataukah webbased, pada dasarnya masing-masing platform memiliki keunggulan dan kekurangan dibandingkan yang lain, mari sama-sama kita bandingkan antara desktop based atau web based?

Aplikasi Desktop vs Web based

WEB BASED adalah aplikasi yang dibuat berbasis HTML yang membutuhkan web server dan browser untuk menjalankannya seperti Chrome, Firefox atau Opera. dengan membuat sistem berbasis web based ada beberapa hal yang penting dan harus kita pikirkan sebelum membangun sistem tersebut, diantaranya:

  1. Membutuhkan spesifikasi server khusus, semakin banyak jumlah client yang mengakses maka spesifikasi server juga harus semakin besar pula, karena seluruh beban pemrosesan script (html, php, javascript, asp, dll) dilakukan pada server bukan pada client (Central Processing), maka analoginya jika ada 1500 baris kode dengan jumlah client 75 PC itu artinya server harus melakukan proses data sebanyak 112.500 baris kode.
  2. Apabila jumlah database yang diakses besar maka dipastikan server yang digunakan untuk menjalankan webservice (Apache) harus dipisahkan dengan server database, karena apabila jumlah client mencapai ratusan padahal Server Apache dan Database menggunakan server yang sama maka dapat dipastikan Server akan berjalan lambat.
  3. Aplikasi berbasis web based dapat diakses dari berbagai perangkat dengan hanya menggunakan web browser saja, artinya hanya dengan web browser dan program LAN SCANNER dan akses ke jaringan (misal melalui WIFI) maka siapa saja sudah bisa mengakses ke aplikasi tersebut, disini akan memberikan peluang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
  4. Kelebihan dari Webbased adalah proses update yang mudah, karenakan kode program disimpan dalam Server maka untuk melakukan update cukup dilakukan dari server saja, tanpa harus melakukan re-install ke masing-masing PC.
  5. Kekurangan dari Webbased adalah metode penampilan report harus dengan system paging (contoh apabila menampilkan report hanya ditampilkan baris 1 s.d 1000), apabila dipaksakan maka memory cache yang digunakan oleh browser bisa overload dan bisa menyebabkan browser hang.

DESKTOP BASED : adalah aplikasi yang berjalan pada satu PC saja, aplikasi ini dapat terhubung dalam satu jaringan secara independen dan tidak memerlukan browser. Untuk membuat sistem desktop based kita harus memikirkan tentang beberapa hal yang sangat penting untuk membangun sebuah sistem, diantaranya:

  1. Pemrosesan script program dilakukan pada masing-masing PC Client (Distributed Processing), karena proses program dilakukan secara terdistribusi maka spesifikasi PC Client dapat disesuaikan dengan modul program yang dieksekusi pada unit bersangkutan saja (contoh unit kasir dan unit gizi memiliki beban kerja yang berbeda, maka unit gizi tidak perlu menggunakan spesifikasi PC setara dengan kasir, dan hal ini cukup meringankan budget untuk pengadaan PC bagi rumah sakit).
  2. Spesifikasi server yang harus disiapkan hanya ditujukan untuk penyimpanan data atau server database, karena hanya dibutuhkan 1 server maka proses maintenance bagi rumah sakit (terutama EDP) akan jadi lebih mudah dan biayanya juga lebih terjangkau.
  3. Aplikasi desktop memiliki keamanan yang lebih baik, karena kode program dicompile langsung dalam bentuk kode mesin (assembly) sehingga code sumber tidak akan bisa dibaca orang lain sekalipun menggunakan program decompiler.
  4. Untuk dapat mengakses ke server, PC yang digunakan harus diinstal terlebih dahulu aplikasi programnya, sehingga tidak semua orang bisa mengakses ke server dengan demikian Staf IT/EPD hanya berfokus pada keamanan security database saja,
  5. Kelemahan aplikasi desktop adalah proses update harus dilakukan satu persatu di PC client, namun hal ini dapat diatasi dengan membuat program autoupdate, artinya aplikasi akan melakukan update otomatis dengan mendownload program terbaru dari server tanpa harus melakukan copy satu persatu sehingga proses update bisa dilakukan lebih cepat, dan CMSM sudah menyediakan fitur autoupdate sehingga Staf IT/EDP sudah tidak perlu direpotkan lagi untuk mengupdate program satu persatu.

Aplikasi Desktop vs Web based

Aplikasi CMSM (Complete Medical Software Management) dikembangkan dengan platform Desktop, ukuran aplikasi CMSM pun sangatlah kecil yaitu 7,8 Mb (Full Modul), beban dari eksekusi program didistribusikan berbeda-beda ke setiap PC Client sesuai dengan beban kerja di unit masing-masing, Transfer yang dilakukan pada jaringan hanyalah byte data MySQL saja, tidak seperti pada webbase yang terdapat unsur user interface (HTML) didalamnya.

Distributed process for high performance,

Selain itu CMSM dikembangkan dengan JAVA untuk mendukung portabilitasnya, sehingga aplikasi bisa dijalankan di OS Windows, Macintosh atau Linux, selain itu hanya PC yang sudah diinstal program saja yang bisa mengakses data ke server.

More OS choice, with high level security

 

by admin
Aplikasi Desktop vs Web based

UDD (Unit Dose Dispensing)

UDD (Unit Dose Dispensing) bukanlah hal baru di sistem farmasi rumah sakit, UDD adalah suatu sistem distribusi obat ke pasien dimana obat diberikan oleh farmasi ke pasien (atau perawat) sudah terbagi menjadi dosis sekali konsumsi.

Kelebihan dari sistem UDD ini adalah mampu menekan jumlah stock yang beredar di pasien rawat inap, sekaligus juga dapat menekan jumlah obat yang direturkan oleh pasien bersangkutan saat pulang, hal ini dikarenakan obat yang hendak dikonsumsi pasien saat itu saja yang diserahkan ke pasien, sedangkan obat yang belum waktunya diminum masih berada di apotek.

Dalam proses UDD obat dikemas diberi etiket dan diletakkan dalam  wadah / plastik dengan warna berbeda untuk mempermudah perawat dalam memberikan obat sesuai waktu yang ditentukan dan untuk menghindari kesalahan dalam jadwal penyerahan obat. Misalkan pagi warna hijau, siang warna biru, malam warna putih, sedangkan warna kuning hanya diberikan dengan kondisi tertentu.

Aplikasi CMSM mampu mendukung konsep UDD (Unit Dose Dispensing) yang diterapkan di rumah sakit, dilengkapi fitur DPO (daftar pemberian obat) Rawat inap dengan fitur ini perawat dapat mengontrol jumlah pemberian obat ke pasien bersangkutan, resep yang dimasukkan oleh dokter akan langsung terhubung ke apotek untuk disiapkan distribusinya sesuai dengan konsep UDD.

Daftar Pemberian Obat (DPO) - UDD (Unit Dose Dispensing)

Setelah perawat memberikan obat ke pasien maka harus memasukkan daftar pemberian obat difitur yang telah disediakan, data tersebut akan tercatat dibagian rekam medis sekaligus dapat pula dilaporkan ke dokter penanggungjawab via gadget (Android) ke dokter bersangkutan.

Apotek Daftar Resep - UDD (Unit Dose Dispensing)

Dengan melakukan implementasi UDD (Unit Dose Dispensing) di rumah sakit, maka rumah sakit tidak perlu menyediakan stok yang berlebih dan kualitas pelayanan pasien pun akan semakin meningkat dimana proses terapi ke pasien benar-benar dapat dimonitoring dengan baik oleh perawat atau dokter penanggung jawab dari lokasi manapun.

Keuntungan lain dari implementasi  UDD (Unit Dose Dispensing) pada rumah sakit adalah arus perputaran transaksi barang juga menjadi lebih cepat, semakin cepat perputaran maka obat expired akan dapat diminimalkan karena jumlah retur obat untuk kembali ke apotek dapat ditekan dengan semaksimal mungkin.

Optimasi Bridging dengan BPJS

Sejak BPJS Kesehatan pertama kali diluncurkan, aplikasi CMSM sudah mendukung bridging dengan BPJS Kesehatan dalam hal pencetakan SEP pasien, maka proses pencetakan SEP dapat langsung dilakukan di loket pendaftaran tanpa harus menyediakan loket khusus untuk pencetakan SEP.

Saat ini engine bridging yang digunakan aplikasi CMSM sudah mengalami optimasi dalam hal kecepatan proses data dengan web server yang disediakan oleh BPJS, selain itu fitur – fitur yang dimiliki oleh aplikasi bridging sudah menyediakan “BPJS Billing Plafond Limit“, fitur ini untuk mengetahui berapa perkiraan nilai yang akan dibayarkan oleh BPJS untuk diagnosa yang diderita oleh pasien bersangkutan, dengan demikian rumah sakit dapat mengetahui gambaran lebih awal tindakan apa saja yang dapat dilakukan kepada pasien, sehingga pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit menjadi lebih optimal.

Informasi lebih detail tentang bridging silahkan klik link ini

BPJS Kesehatan

Network Speed Tester

Aplikasi CMSM sekarang dilengkapi dengan Network Speed Tester, dengan fitur yang disediakan ini kita dapat melihat seberapa baik jaringan yang kita miliki, terlebih lagi apabila anda menggunakan WIFI untuk menghubungkan pc atau laptop dengan server.

Aplikasi dapat berjalan dengan baik tanpa halangan apapun untuk kecepatan diatas 8 Mbps, apabila kecepatan jaringan dibawah standar tersebut maka program akan berjalan sedikit lambat hal ini karena proses pengiriman data dari server ke server berjalan lambat.

Network Speed Tester

Network Speed Tester

Untuk beberapa unit yang sering terjadi bottle neck seperti : Kasir dan Apotek kecepatan jaringan harus diatas 8 Mbps, kecepatan tersebut hanya dapat dicapai dengan menggunakan koneksi kabel jaringan, silakan menggunakan Network Speed Tester untuk mengetahui seberapa baik jaringan di rumah sakit anda.

BRI e-Hospital

Saat ini aplikasi CMSM (Complete Medical Software Management) yang dikembangkan oleh SistemRumahSakit.com telah mendukung bridging dengan BRI e-Hospital, dengan bridging ini pembayaran tagihan pasien rawat jalan atau rawat inap dapat dilakukan oleh pasien melalui ATM BRI dimanapun.

^