|
|
Pemahaman Salah
Tentang Sistem Informasi
Hardware,
Software dan Brainware
Saat ini banyak sekali institusi kesehatan seperti rumah
sakit, menggunakan Sistem Informasi, banyak pula dari
mereka yang telah gagal, ketika ditanya seluruh jawaban
dikarenakan programnya tidak jalan, dan ada pula yang
menyatakan bahwa programnya sudah tidak ada lagi karena
Operating Systemnya sudah di install ulang sehingga
tidak bisa digunakan, banyak sekali institusi yang
merasakan ditipu oleh Vendor program yang tidak
bertanggung jawab, hal tersebut disebabkan karena
program (software) yang tidak jalan.
Namun ketika ditanya lebih jauh “Modul pada program yang
mana yang tidak jalan, bisakah ditunjukkan...? ”, mereka
menjadi kebingungan untuk menjawabnya dan bahkan tidak
tahu, sangat ironis memang, mereka melakukan justifikasi
(pembenaran) bahwa telah terjadi kesalahan pada program
namun letak kesalahan itu sendiri ia tidak tahu.
Tampaknya dimasyarakat telah timbul
miss-understanding mengenai sistem informasi, sistem
informasi adalah suatu kumpulan beberapa elemen yang
bertujuan untuk memberikan informasi bagi penggunanya,
adapun elemen itu ada 3 yaitu : Hardware, Software dan
Brainware, dan komponen brainware-lah yang sering
dilupakan.
.:
Hardware adalah
perangkat yang secara fisik bersentuhan langsung dengan
penggunanya, hardware bisa juga disebut sebagai
perangkat elektronik, hardware tidaklah selalu dalam
bentuk komputer, namun bisa juga berbentuk device yang
lain seperti Printer, Finger Print, Kabel Jaringan,
Switch Hub, Cable Connector, dan lain-lain.
.:
Software adalah
perangkat lunak yang terinstal di dalam hardware,
software atau program terhubung dengan penggunanya
secara abstrak /virtual, Vendor program Sistem Informasi
Rumah Sakit berada dalam komponen ini bukan pada
komponen hardware terlebih brainware, karena tanggung
jawab Vendor hanya sebatas pada program yang dijual saja
bukan keseluruhan sistem dan program pendukung lain
seperti Program Office atau Anti Virus lainnya.
.:
Brainware adalah
komponen manusia, dalam hal ini peran manusia sebagai
pelaksana/staf operator juga ikut menentukan, yang perlu
menjadi perhatian adalah dalam hal kedisiplinan dalam
menjalankan semua perintah yang telah didefinisikan pada
saat implementasi program, tentunya didalam melakukan
audit IT sebuah institusi, faktor Brainware harus
disertakan.
Ibarat sebuah sistem pertahanan, kita memiliki pesawat
yang canggih namun kenyataannya sama sekali tidak pernah
diterbangkan oleh pilot, jika sistem pertahanan tersebut
tidak jalan, maka pilotnya lah yang harus disalahkan
bukan pesawatnya.
Mempelajari hal tersebut, saya menemukan berbagai alasan,
beberapa diantara mereka merasa takut menggunakan jika
nanti salah, dan ada juga yang merasa sulit. Alasan itu
lebih banyak dilontarkan oleh pengguna yang baru pertama
kali memegang komputer, untuk menangani permasalahan
tersebut keterlibatan Vendor dalam menyediakan pelatihan
harus lebih ditingkatkan, bahkan jika perlu dilakukan
pendampingan staf operator selama beberapa minggu,
sehingga mereka benar-benar terbiasa dalam
menggunakan komputer.
Tidaklah mudah untuk mengaplikasikan IT disebuah
institusi apabila SDM yang ada pada insuitusi itu tidak
memiliki latar belakang IT sama sekali, dan satu hal
yang paling parah institusi tersebut tidak memiliki
Departement Khusus IT, dimana seluruh perbaikan IT di
garap pihak ke-3, perlu diketahui SIM bersifat rutin
harian sehingga harus ada minimal satu orang dari
internal rumah sakit yang secara rutin setiap hari
mengawasi jalannya sistem tersebut.
Kebanyakan pimpinan institusi di rumah sakit
pemerintahan yang gagal ketika melakukan penerapan IT,
adalah gagal dalam membuat kebijakan ke bawahannya,
sehingga masing-masing bawahan dapat melakukan maneuver
sendiri-sendiri untuk menghindar dari keberadaan IT itu
sendiri, Implementasi Sistem Informasi bukan berarti
mustahil untuk dilakukan. Dalam hal ini peranan pimpinan
tertinggi didalam institusi itu perlu dilibatkan secara
langsung demi berjalannya sistem di rumah sakit tersebut.
(dari berbagai sumber)
|